Home Ragam Info Karakter Masyarakatnya Produktif, Ciri sebuah Desa Wisata Mandiri
Ragam Info - August 12, 2020

Karakter Masyarakatnya Produktif, Ciri sebuah Desa Wisata Mandiri

Secara umum, Desa Wisata tidak berhubungan dengan kemewahan, tidak juga seperti harus serba terpenuhinya kebutuhan, namun prioritas pada kehidupan alami dalam kedamaian dan ketenangan, membaur bersama masyarakat setempat sebagai suatu keluarga dalam bentuk pariwisata yang berkemanfaatan.

Kutipan dari Rodriguez ini menjadi pembuka materi karakter produktif masyarakat di sebuah desa wisata berbasis masyarakat Hal ini disampaikan oleh M. Husen Hutagalung, Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti saat memberikan materi Bimtek Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Tata Kelola Desa Wisata di Kabupaten Kuningan tahun 2020 yang bertempat di Desa Wisata Cibuntu.

Menurut data Biro Pusat Statistik(BPS), di Indonesia saat ini terdapat 2000-an terdaftar sebagai Desa Wisata, dari jumlah tersebut  hanya kurang dari 10%, yang dikategorikan sebagai desa wisata mandiri.

Anehnya lebih dari 90% desa wisata yang dianggap belum mendiri tersebut, bukan karena kurang daya tarik, sulitnya aksesbilitas, rendahnya kapasitas masyarakat dalam mengelola, atau bukan juga karena buruknya fasilitas akomodasi dan lain-lain, tetapi karena karakter masyarakatnya yang kurang produktif.

Menurut menurut doktor yang selama ini fokus terhadap pengembangan desa wisata ini, dibutuhkan organisasi desa wisata sebagai penjaga karakter produktif masyarakat desa,karena aktifitas desa wisata berada di lokasi dan sebagai aset desa, maka Pemerintah desa bersama masyarakat diharapkan dapat membentuk organisasi pengelola Desa Wisata, yang pengurusnya merupakan masyarakat penduduk setempat/berdomisili.

“Organisasi Desa Wisata bertanggung jawab kepada masyarakat, dan Keputusan tertinggi berada pada musyawarah dan pemufakatan yang merepresentasikan masyarakat dan pemerintahan desa.” Jelas Husen.

Husen menjelaskan Salah satu tugas organisasi desa wisata adalah mengelola dayatarik, fasilitas,akomodasi dan jasa layanan lainya yang dimiliki oleh desa (Antisipasi Dominasi dan Disneyfication, Organisasi desa wisata secara transparan dan akuntabel melaporkan kegiatan,

Pengembangan, program kerja, keuangan dan asset/inventaris desa wisata kepada masyarakat dan pemerintahan desa.

“Organisasi pengelola desa wisata bersama pemerintah desa, memiliki kapasitas untuk bekerjasama dengan pihak lain, yang berhubungan dengan pengembangan desa wisata.” Lanjut Husen.

Beberapa ancaman kelangsungan dari sebuah desa wisata, menurut Husen diantaranya adalah Mengarah pada objek Miniatur/Theme Park, Pembuatan fasilitas yg berlebihan, Ephoria pada nilai sosial budaya lokal, Kurangnya pemanfaatan bahan dasar lokal, Dominasi pihak atau kelompok tertentu, Standarisasi mengacu pada industri perhotelan, Prioritas pada orientasi profit, Dekadensi organisasi kemasyarakat.

“maju atau mundurnya, kebersamaan atau tercerai berainya, bangkit atau terpuruknya, bhkan berkelanjutan atau hancurnya sebuah desa wisata, terletak pada faktor dan kemandirian masyarakatnya,dimana nilai-nilai kebersamaan, keterbukaan, keikhlasan, komitmen, ketahana-malangan dll, sebagai mentalitas pengikat untuk keunggulan dan keberlangsungan sebuah desa wisata berbasis masyarakat” Pungkas Husen.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Kabupaten Kuningan Buka Seleksi Penerimaan CPNS dan PPPK Tahun 2021

Pengumuman Seleksi Penerimaan CPNS dan PPPK di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan Ta…