Home News Oleh Suparjo, Inovator Kopi Luwak Tanpa Luwak (LTL)
News - Sosok - August 8, 2020

Oleh Suparjo, Inovator Kopi Luwak Tanpa Luwak (LTL)

Dalam ajang lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2019 ke IX yang diselenggarakan di Kota Sukabumi mulai tanggal 20 – 22 Agustus 2019, dan diikuti oleh kontingen dari setiap Kota dan Kabupaten se-Jawa Barat, dengan menampilkan inovasi mereka masing – masing.

Teknologi Tepat Guna (TTG) Unggulan Kabupaten Kuningan hasil karya dari POS YANTEK KARYA LESTARI Kecamatan Kadugede dengan mengusung inovasi TTG Kopi Luwak Tanpa Luwak mendapat juara ke II Provinsi Jawa Barat, dengan Inovator Ir. Oleh Suparjo yang beralamat di Desa Bayuning Kec. Kadugede

Kopi luwak adalah salah satu jenis kopi yang paling digemari masyarakat dengan aroma dan cita rasanya yang khas. Kopi luwak berasal dari buah kopi yang dimakan oleh luwak (Paradoxurus hermaphroditus), sejenis mamalia kecil yang menyerupai musang dan merupakan hewan liar. Luwak melakukan seleksi terhadap kopi yang akan dimakan yaitu hanya buah kopi yang telah benar-benar matang.

Kopi luwak, salah satu produk kopi Indonesia yang amat diminati konsumen dalam dan luar negeri. Dengan kian tingginya permintaan kopi luwak, produsen tidak bisa hanya mengandalkan produksi dari alam atau luwak saja. Mereka mulai mengembangka usaha budidaya luwak guna memproduksi kopi luwak

Inovasi TTG Pengolahan kopi Luwak Tanpa Luwak (LTL) adalah Teknologi Proses permentasi oleh enzimatis selulotik luwak yang diproduksi di luar saluran pencernaan hewan luwak melalui proses enzimatis dalam fermentor terkontrol.

Produk ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan cara konvensional, antara lain :
1) Aspek Lingkungan,.yaitu proses produksinya lebih ramah lingkungan karena tidak perlu memelihara luwak, kelestarian luwak dapat terjaga karena tidak memerlukan penangkaran luwak;
2) Aspek kesehatan lebih higenis, kandungan kafeinnya lebih rendah, citarasa lebih lembut dan kaya antioksidan dengan kadar asam askorbat hingga 69 persen;
3) Aspek ekonomi yaitu petani/produsen bisa memprogram produksi kopi sesuai kebutuhan, memiliki biaya produksinya lebih murah dibanding pemeliharaan luwak,
4) Harga Lebih Ekonomis, harga kopi Luwak Tanpa Luwak lebih terjangkau oleh penggemar kopi luwak asli, dengan cita rasa sama dengan luwak asli

Untuk menyakinkan para penikmat kopi kopi LTL tidak tangung tanggung telah dilakukan uji cita rasa di PUSKOKA , Jember, merupakan lembaga Nasional yang mengeluarkan sertifikat cita rasa dan kualitas fisik dan kimia kopi, hasil dari uji citarasa dari Jember mendapat total score 84 untuk jenis kopi arabika dan 83 untuk jenis kopi Robusta.

Hal ini menunjukkan bahwa kopi LTL yang di kembangkan oleh sdr Oleh Suparjo masuk kategori Specialty.

Selanjutnya Suparjo mengemukakan bahwa bagi para petani dan pelaku usaha yang ingin mengembangkan Teknologi Kopi Luwak Tanpa Luwak (LTL) Khususnya Kabupaten Kuningan dan Jawa Barat siap untuk berbagi ilmunya, dan hal ini telah dibuktikan dengan membuat grup KOMPI LTL, artinya Komunitas Kopi Luwak Tanpa Luwak.

Keberhasilan ini tentunya menjadi kebanggan bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan yang selama ini trend kopi di Kabupaten Kuningan sudah menggeliat dengan berbagai keunikan cita rasa dengan kualitas baik. Potensi pertanian kopi di Kabupaten Kuningan cukup tinggi, karena memiliki lahan luas dengan kondisi yang cocok.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Sinergisitas TNI bersama Masyarakat, Wujudkan Pipanisasi di Desa Cipedes

Serbuan teritorial merupakan pola pembinaan untuk optimalisasi program yang telah dilaksan…