KlikKuningan – Tidak disangka dan sungguh luar biasa, baru dibuka pemesanan Pre Order oleh Penulisnya lewat Medsos, buku sejarah yang berjudul “5 JANUARI, HARI JADI KABUPATEN KUNINGAN: KUMPULAN ARTIKEL SEJARAH KUNINGAN” laris manis. Banyak yang melakukan pemesanan dan rela untuk menunggu buku tersebut dicetak dan sampai ke tangan mereka.Tendi, Alumni ILC Program Victoria University of Wellington, penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud untuk program Doktoral Universitas Indonesia, yang menulis buku tersebut menjelaskan bahwa sebagai Putra Asli Kuningan, setidaknya setidaknya pernah berbuat meskipun sedikit untuk Kuningan. “Dalam konteks ini, karena saya akademisi yang bergerak dalam bidang sejarah dan budaya, maka saya baru bisa memberikan pandangan-pandangan baru dalam tulisan sejarah Kuningan.” Kata Tendi. “Niat saya menulis itu, sedari awal adalah memberi sumbangsih terhadap perkembangan Kuningan itu sendiri. Karena bagaimanapun, Kuningan itu adalah kabupaten yang kaya akan sejarah dan budaya. Namun sayangnya, geliat pengkajian dan perkembangan mengenai literasi dan studi sejarah dan budaya di daerah ini begitu minim. Malah di tengah kekosongan itu, muncul pihak-pihak yang justru membuat wawasan historis kita semakin kabur” Ujar Dosen Ilmu Sejarah di IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini.Menurut Tendi, niat pertama adalah untuk memberi pandangan sejarah yang ilmiah dan berdasarkan data serta fakta agar kita tidak diperbudak oleh dasar data yang asal-asalan. “Dengan dasar niat demikian, saya tidak pernah memikirkan bayaran. Karena jika hal itu menjadi yang utama, maka biayanya akan sangat mahal. Silahkan bisa dibuktikan” Lanjut Tendi sambil tertawa renyah”Namun meskipun begitu, saya selalu bersikap waspada. Karena tidak sedikit yang hanya suka mencari azas manfaat dari apa yang orang lain miliki. Ini yang perlu kita hindari dan harus bisa disikapi.”Walaupun tulisan dalam bukunya terkesan menulis uraian sejarah yang kesannya berlawanan dengan uraian sejarah yang sudah di-Perda-kan, karena hari jadi yang diperingati setiap tahun oleh Pemerintah Daerah Kuningan ditetapkan setiap tanggal 1 September yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kuningan Nomor 21/Dp.003/XII/1978 tanggal 14 Desember 1978.Namun bagi Tendi tulisannya sedikitpun tidak berniat menulis narasi yang bertujuan untuk melawan suatu ketetapan pemerintah.” saya hanya menulis yang saya pahami dari bukti-bukti sejarah yang saya temui. Kalau toh itu berkaitan dengan suatu hal yang mendasar, saya kira bagus jika memang ada penambahan bahan. Kalau sekiranya memang harus dievaluasi karena ada sesuatu yang dikira belum tepat, kenapa tidak? ” Lanjut Founder Pamanah Rasa Institute sekaligus Pembina Divisi Sejarah Komunitas Saung Indung Kuningan ini.”Bagaimanapun, waktu ini terus menderu, masa ini terus bermetamorfosa. Dalam perkembangan selanjutnya, satu teori bisa dibantah oleh teori lainnya di masa depan. Begitupun dengan suatu ketetapan yang pernah dilakukan, jika ada hal yang keliru mungkin bisa dievaluasi kembali untuk dibenarkan.” Kang Tendi menjelaskan.Dengan menerbitkan buku ini, tidak ada niat dari sang Penulis buku untuk bertujuan agar Perda yang ada di revisi”Sekali lagi saya katakan, saya tidak memiliki niat untuk melawan ketetapan ataupun mencabut suatu aturan. Saya hanya ingin menulis dan memberikan wawasan yang berdasarkan fakta dan bukti nyata yang ditinggalkan” Tendi melanjutkan.Dengan terbitnya buku 5 Januari, Kabupaten Kuningan dan Hari Jadi ini diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai data yang ditemukan terkait bagaimana proses dan perjalanan Kabupaten Kuningan ini berdiri pada zaman kolonial Hindia Belanda.Di samping tulisan tentang hari jadi kabupaten tersebut, di dalamnya juga terdapat banyak narasi-narasi lain yang dapat memperkaya khazanah pengetahuan tentang Kabupaten Kuningan yang selama ini tidak diketahui oleh banyak orangPenerbitan buku ini, menurut Tendi masih menggunakan kantong sendiri belum ada pihak yang mendukung dari sisi pendanaan, Tapi mungkin jika ada yang berkeingin untuk bersama-sama menjernihkan bidang sejarah dan budaya di Kabupaten Kuningan, maka dengan tangan terbuka Tendi siap untuk bekerjasama mengingat ini adalah usaha non-profit untuk daerah yang sama-sama kita cinta”Tujuannya itu tadi, buktos baktos ka lemah cai. Sungguh miris, daerah kita ini seolah luput dari studi sejarah dan budaya. Padahal kekayaan historis dan kulturalnya luar biasa. Lagipula, saya ingin mewariskan fakta kepada anak cucu kita, dan bukan hal-hal yang (sekalipun) istimewa namun hanya dikait-kaitkan begitu saja.” Pungkas Tendi.(Beng).