REFLEKSI MILAD MUHAMMADIYAH KE 106 M / 109 H
November 20, 2018
0 comments
Share

REFLEKSI MILAD MUHAMMADIYAH KE 106 M / 109 H

Penulis : Khaerul Anwar, S.Ag.,M.Pd.I*

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Kuningan

Ungkapan syukur atas limpahan karunia tanpa batas selayaknya menjadi komitmen yang harus tetap dijaga sebagaimana kita menjaga dan merawat  harapan-harapan kita dengan sepenuh jiwa. Rasanya tidaklah berlebihan jika kita berbangga bukan hanya menjadi bagian dari bangsa ini, akan tetapi bangga menjadi bagian dari keluarga Muhammadiyah.

Sebagai Organisasi tertua dan Insya Allah terbesar di Republik Ini, Indonesia. Muhammadiyah hadir di saat yang tepat, laksana Oase di padang Tandus atau Cahaya di gelap malam. Pendar suryanya tidak pernah redup apalagi lelah menyinari nusantara tercinta bahkan lintas nusantara, meskipun usianya sudah memasuki paruh abad kedua. Pancaran sinarnya bukan hanya dapat dirasakan mencerahkan dan mencerdaskan warga persyarikatan muhammadiyah saja  tapi Insya Allah dapat dirasakan seluruh bangsa ini bahkan, tanpa berlebihan, Insya Allah semesta Raya ini.

Di saat Fitrah kemanusiaan terinjak dan terkoyak Muhammadiyah selalu hadir di garda terdepat, bahkan mungkin tercepat, dalam mendobrak dominasi “penjajahan” baik kultural maupun struktural dan mengembalikan ke fitrah kemanusiaan sesungguhnya.

Sebagai tokoh sentral, KH Ahmad Dahlan dengan lantang menggelorakan api Jihad dan semangat tajdid dalam berbagai asfek kehidupan, di tengah kondisi bangsa yang terkoyak dan orang masih terlena merasakan pahit getirnya penjajahan, dalam sebuah organisasi yang kemudian diberi nama Muhammadiyah.

Sebagai organisasi yang telah berdiri sekitar 106 tahun jika dilihat dari perhitungan kalender Hijriyah / 103 tahun secara perhitungan kalender Miladiyah, kiprah Muhammadiyah terhadap bangsa tentu tidak bisa diragukan lagi, bahkan mungkin nyaris tidak ada satupun perubahan di nusantara ini tanpa sentuhan Muhammadiyah. Apalagi Muhammadiyah merupakan organisasi Islam tertua yang secara langsung telah ikut serta menghantarkan kemerdekaan republik Indonesia ini melalui tokohnya KI Bagus Hadi Kusumo, Ir. Sukarno dan atau Jendral Sudirman, Bahkan Muhammadiyah selalu tampil digarda terdepat dalam merawat dan menjaga keutuhan NKRI meski tanpa harus berkoar “NKRI harga Mati” karena itu memang bukan watak dan kepribadian Muhammadiyah, Sedikit Bicara Banyak Bekerja.

Kiprah Muhammadiyah melalui amal amal usahanya yang tersebar di Nusantara bahkan lintas nusantara, bakti yang ditunjukan dalam bentuk Healing, Feading, schooling ratusan bahkan ribuan menjadi bukti Ta’awun muhammadiyah untuk negeri.  Komitmen Ta’awun Muhammadiyah bahkan senantiasa dapat menjangkau ceruk-ceruk pelayanan yang belum terjangkau tangan pemerintah. Unit pelayanan sosial yang disediakan muhammadiyah  dalam berbagai bidang, baik bidang pendidikan, sosial ekonomi, maupun kesehatan nyaris berbanding dengan unit pelayanan yang dibangun dan dibiayai pemerintah.

Besarnya kepercayaan masyarakat terhadap muhammadiyah dari hari kehari semakin meningkat, sehingga jika dilihat dari data statistik nyaris tak ada hari tanpa pendirian dan peningkatan kualitas pelayan sosial yang dirintis Muhammadiyah

Spirit Islam berkemajuan yang menjadi jiwa gerakan muhammadiyah, sebagaimana yang dicontohkan tokoh pendahulunya, menjadi motivasi bagi persyarikatan untuk membangun Indonesia berkemajuan disemua sektor dan dinamisasi metodologi dakwah yang seiring Era Revolusi Industri 4.0 sehingga dakwah muhammadiyah tidak bersifat elitis namun dapat di afresiasi dan diterima oleh semua kalangan tanpa terpolarisasi segmen dan kasta di masyarakat. Jika tidak, maka muhmmadiyah bukan hanya akan tertinggal dan ditinggalkan bahkan mungkin tinggal prasasti kebesarannya saja. Semangat Islam berkemajuan seyogyanya membuahkan sifat ikhlas dan suka bekerja keras, sebagai tradisi muhammadiyah, menjadi salah satu faktor yang menghantarkan muhammadiyah bisa terus tumbuh menjadi kekuatan masyarakat madani.

Tugas kita saat ini adalah menjadi pribadi-pribadi terbaik, Mandiri, Unggul, Dinamis dan Agamis dan menjadi inspirator-inspirator di lingkungan kita masing-masing dengan mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya untuk dapat berkontribusi sebesar-besarnya untuk kemaslahatan dan bermamfaat bagi Umat, sebagaimana spirit al-Maun nya KH Ahmad Dahlan.

Dirgahayu Muhammadiyah,

Jayalah Muhammadiyah,

Majulah Indonesia

 

Facebook Comments